PenyairPulo Lasman Simanjuntak dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 2022.Menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pulisistik (STP/IISIP-Jakarta).Karya puisinya sejak tahun 1980 sampai tahun 2022 telah dimuat (dipublish) diberbagai media cetak (suratkabar dan majalah), majalah digital (Apajake dan Elipsis) media online,dan media sosial.Karya puisinya Saatpetani mulai menanam padi di hamparan sawah yang subur basah. Dan warga kota naik ke atap dikejar banjir. Resah. Tanah teriak merdeka. Mikroba mengeja jeratan salsa, rerumputan mengingat gerakan tango, dan dedaunan mengalun bak tarian samba. Saat petani mencabut benih. Orang kota mencubit kantong kemih. Sawah telah dibajak calo tanah. Puisi- Wajah Petani Maret 18, 2018. Facebook. Sajak Agus Yulianto Wajah P etani Senja tak seindah dulu menjadi gersang dan dangkal. dari balik jendela matamu menent Sajak Agus Yulianto. Wajah P etani. Senja tak seindah dulu. menjadi gersang dan dangkal. dari balik jendela matamu menentang Liferdimenjelaskan, dugaan itu muncul karena kedua korban yang meninggal di lokasi dan waktu berbeda tersebut meninggal di sawah. Saat kejadian itu, mereka sedang bekerja menyemprotkan pestisida. Bahkan, ketika ditemukan, mereka masih menggendong tangki penyemprot pestisida. ''Untuk mengetahui penyebab kematian kedua petani itu memang petaninembang di atas bajak berjemur di lumpur betapa merdu lagu tanah airku hidup teguh di sini Nyanyian bumi dalam wujud puisi. Diposting oleh pina duwi hadi di 19.19 0 komentar. Label: puisi. puisi leon agusta. di sawah dan bukit tinggi. "Bu kaki Sri sakit, bengkak. Ah, sakit ! Oleh: W.S. Rendra. Tuhanku, WajahMu membayang di kota terbakar. dan firmanMu terguris di atas ribuan. kuburan yang dangkal. Anak menangis kehilangan bapa. Tanah sepi kehilangan lelakinya. Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini. tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia. kumpulanpuisi 2 Sabtu, 31 Oktober 2009. kriterian pemimpin. 1. pemimpin mempunyai pengikut 2. Pemimpin harus jujur Nyanyian lama menggelitik telinga Dalam cahaya menyala lentera Petani Engkau berjalan di atas pematang sawah Langkahmu sungguh gagah Dengan cangkul di pundak Kau tak pedulikan dirimu Puisi: Jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa terdiri dari: Pastoral; berisi gambaran kehidupan kaum gembala atau petani di sawah. 9. Idyl; berisi nyanyian tentang kehidupan pedesaan, perbukitan, dan padang-padang. 10. Satire; berisi ejekan dengan maksud memberi kritik. Puisisederhana dibandingkan puisi sederhana gubahan Sapardi Djoko Damono. Kita simak: Kehidupan memutar segala ragu/ Petani melangkah riang ke sawah/ Tersentuhlah daun nan hijau/ Melambai minta dibelai// Kicau riang nyanyian pagi/ Membawa anak ke masa depan/ Dusunku kecil, padi menguning/ Bagai kencana titian masa. SENANDUNGSAWAH-SAWAH. langkah-langkah para petani itu memunculkan musik di tubuhku cangkul yang memukul dan membalik tanah kayu yang menghunjam mencipta lubang dan benih yang bersemayam sebagai lagu keabadian. aku bersujud di sajadahnya kucium kaki-kaki mereka yang tungkaknya retak kucium tangan-tangan mereka yang pangkal jarinya kapalan i63bd. Puisi tentang Sawah untuk Pencinta Alam, foto Unsplash/Mufid MajnunPuisi tentang Sawah untuk Pencinta AlamPuisi tentang Sawah untuk Pencinta Alam, foto Unsplash/Ramadhani RafidSejuta pesona tetap teruraiTak pernah habis menuai kagumHariku menjadi hari paling indahKetika memandang sawah itu lewat binar matakuHijaunya melepas senyumDari bibir yang tak dapat berkataIndahnya memenuhi jiwaDi kemudian hari, aku ingin berkunjung lagiLewat tangan-tangan petaniKau indahkan desa iniTak hanya dengan hijau dan asrimuNamun juga dengan hasil padimu yang berlimpahDi atas tanah yang suburKau masih menjadi tempat favoritkuUntuk merenung dan bersyukurAtas karunia Tuhan yang tak hentiBanyak tempat indah di duniaNamun tak banyak yang terasa seperti rumahBerbeda dengan sawah yang bisa kujangkauDengan lima menit berjalan kakiKala petani bekerjaKala kerbau membajak sawahKala padi siap dipetikSegalanya ingin terus kupandangSegalanya terus membuatku ingin pulangUndak demi undak sawahYang terhampar hijau di hadapan matakuMasih berkilau di bawah langitSeperti zamrud bagi duniaAlam akan selalu seindah iniSelama hamparan itu masih membentangMengurai barisan padi yang merundukMencium tanah yang kian suburSawah yang hijau dan cantik ituTelah menjadi galeri seni milikku sendiriTangan seniman bahkan tak kuasaMemeluk megahnya hamparan ituSetiap kakiku menjejaki tepiannyaSenyum tak dapat luput di wajahkuSatu-persatu selalu kulukis kagumDi bagian terdalam sanubariku Daftar isi1. Nyanyian Petani2. Nasib Kami3. Anak Petani4. Pergi Menanam Padi5. Sawah adalah Kantor Kami6. Musim Panen7. Suasana di Pagi HariPetani banyak memberikan manfaat di kehidupan. Petani menjadi salah satu pemasok bahan-bahan makanan. Salah satunya makanan pokok yang biasa dimakan yakni beras. Namun, sayangnya kehidupan petani tak sesuai dengan jasa yang diberikan. Banyak dari mereka yang hidup memprihatinkan. Bahkan, terkadang untuk makan sehari-sehari saja mereka masih susah. Padahal, mereka yang setiap hari memasok makanan untuk orang banyak lahan-lahan yang menjadi ladang penghasilan yang kini dirubah menjadi gedung-gedung. Petani semakin kesusahan, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi pengangguran. Sangat disayangkan memang di negeri yang terkenal sebagai negara agraris tetapi petaninya memprihatinkan. Banyak yang berada di bawah kemiskinan dan tak mempunyai rumah yang layak dan rahasia umum lagi kesengsaraan menjadi seorang petani. Banyak petikan lagu hingga puisi yang mengganbarkan bagaimana menyedihkannya kehidupan seorang petani. Berikut ini kami sajikan kumpulan puisi yang mengangkat tema “Petani.”1. Nyanyian PetaniKami yang berangkat sebelum matahari bangunDan pulang saat matahari terbenamTak pernah sekalipun merasakan kemewahanBerada di rumah nyaman dengan banyak kendaraanKami adalah para penjaga lahanYang saban hari menghasilkan banyak sumber makananNamun, kami sering merasa kelaparanMerasakan perut bunyi keronconganSaban hari kami menjaga tanamanMemberi makan dan menjaga dari hama tanamanMengairi lahan tak pernah bosan dilakukanAgar tumbuh subur dan menghasilkan banyak karung saat di panenInilah nyanyian keluhan yang bisa kami ceritakanPerihal kemalangan, kesedihan dan kemiskinanKami bukan pemilik, hanya penjaga lahanTak banyak penghasilan yang didapatkan2. Nasib KamiBagaimana nasib kami tuan dan puan?Jika bukan kalian yang memperjuangkanBagaimana kami bisa hidup, tuan dan puanJika sumber kehidupan kami hilangKami mempercayakan sepenuhnya pada kalianKalian yang dapat menyuarakan keresahanBantu kami yang tak dapat menyampaikan keluhanMemperjuangkan nasib kami ke depanTuan dan puan coba mengerti posisi kamiSaban hari bangun mengais rezekiMengumpulkan peluh di bawah terik matahariTapi, kelaparan sering sekali mengisi setiap hariCoba sesekali dengarkan kami, wahai tuan dan puanKami tak minta banyak, hanya ingin diperjuangkanBagaimana nasib kami ke depanApakah, masih bisa bertahan dengan kemiskinan?Tuan dan puan pada pundak kalian kami percayakanPada suara kalian terdapat suara kami yang sumbangPada tangan kalian ada keresahan yang patut diperjuangkanDan pada kaki kalian menunggu perubahanTuan dan puan, kami di sini menunggu bagaimana nasib ke depanKami sudah lelah berada di garis kemiskinanKami sudah tak sanggup lagi melanjutkan kehidupanJika tuan dan puan tak mau memperjuangkan3. Anak PetaniKami tinggal di sebuah desa yang kayaBanyak sekali sumber daya yang melimpah ruahTapi, tak pernah sedikitpun kami merasakannyaHanya dapat menyaksikan dari kejauhanKami ini adalah anak petaniYang bapak ibunya berangkat pagiYang makan satu hari hanya sekaliTak pernah merasakan dinginnya AC ruanganKami memang anak petani yang miskinYang tinggal di gubuk yang hampir reotTak pernah sekalipun merasakan kemewahanHanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasarSekalipun kami sering merasa kelaparan dan perut keronconganSekalipun kami tak pernah merasakan naik kendaraanTapi, kami bangga menjadi anak petaniTak pernah sedikitpun malu untuk mengakuiBapak Ibu kami memang hanya seorang petaniTapi tak pernah sekalipun mengajarkan untuk iri hatiApalagi sampai melakukan korupsi seperti pejabat negeriYang tak malu saat melakukan kejahatan terang-teranganKami bangga jadi anak seorang petaniYang terpenting tak pernah merugikan orang lainKami senang menjadi anak seorang petaniSekalipun hidup penuh kesederhanaan4. Pergi Menanam PadiKami biasa berangkat pagi sekaliMenuju ladang untuk menanam padiSembari membawa bekal makan untuk pengganjal laparAgar semangat saat menanamKami adalah si tukang tanam padiMenyebar benih pada lahan yang suburMerawatnya dengan memberi pupuk kandangMengairi sawah agar tak kekeringanPekerjaan kami adalah menanam padiMenunggu sampai waktu panen tibaMenghasilkan beras untuk dimakanSebagai makanan pokok orang-orangKami memang si tukang tanam padiKami yang menghasilkan beras setiap hariKami yang mengelola dan menjaganya setiap hariTapi, beras sering tak ada di rumah kami5. Sawah adalah Kantor KamiSawah adalah kantor kamiTak memiliki ruangan yang nyaman dan disii AC yang sejukTak ada kursi yang empuk untuk duduk nyamanDan tak ada sekretaris yang membantu pekerjaanSawah memang kantor kamiYang becek dan tak mempunyai atap pelindung dari panas matahariHanya angin alami yang menjadi penyejuk di siang hariDan gubuk reot untuk mengistirahatkan diriKantor kami memang tak nyamanTapi, dapat membuat kami senangSebab, kantor kami adalah ladang penghasilanYang dapat membuat kami tak kelaparanSekalipun kantor kami tak memiliki AC yang membuat nyamanKantor kami merupakan sumber pemasok makananMakanan yang setiap hari kalian makanAtau kalian mati kelaparan6. Musim PanenBagi kami tak ada yang paling bahagiaDari hari-hari selain musim panen tibaSaat padi yang kami tanam dan jagaAkhirnya dapat dipanen jugaTak ada hari yang paling istimewaSelain hari saat musim panen tibaMengambil hasil dari biji yang selama ini dijagaMerasakan nikmatnya buah kesabaranKami akan sedih saat musim panen tak adaSaat musim panen menjadi tak menentuHidup kami terasa berada di ujung mata tombakYang siap dilempar menuju jurang yang curamMusim panen adalah berkah dari Yang Maha KuasaBerjuta nikmat yang tak dapat diutarakanNikmat yang tak setiap hari bisa dirasajanBuah dari kesabaran yang harus dirayakanMusim panen sama dengan musim gajianMusim yang mendatangkan kebahagianMeskipun tak banyak, tapi cukup memenuhi kebutuhanYang terpenting tak merasakan kelaparanTerima kasih Tuhan telah menghadirkan musim panenTerima kasih atas nikmat yang tak mampu ditakarTerima kasih sudah menjaga bibit hingga musim panen tibaSehingga kami dapat merasakan kebahagian7. Suasana di Pagi HariKicauan burung adalah nyanyian penghibur di pagi hariLahan yang subur dan padi yang menguningPemandangan yang biasa kami lihat setiap hariSaat kami akan bekerja di pagi hariSemilir angin dan sengatan matahariAdalah santapan kami sehari-hariSuara hewan liar dan rumput ilalang yang tinggiMenjadi teman dikala sawah tengah sepiItulah suasana pagi kami setiap hariSetiap kali akan menengok padiSuasana yang menemani dikala sedang bekerja dengan sepenuh hatiMeskipun tak mendapat imbalan tinggiItulah sejumlah kumpulan puisi bertemakan petani. Puisi-puisi diatas menggambarkan kesedihan dan nasib menjadi seorang petani. Menjadi seorang petani memang tak mudah. Namun, jika tak ada petani, siapa yang akan menghasilkan sumber makanan? Siapa yang akan menghasilkan padi untuk dijadikan beras? Semua itu adalah pekerjaan seorang petani. Sekalipun tak mendapat bayaran tinggi, tapi jasanya begitu dibutuhkan semua orang. Maka dari itu, hargai seorang petani. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Nyanyian alam di pematang sawahRasanya rindu mengunjungi sawah. Tiada habis- habisnya untuk di ceritakan, tentang bagaimana suasananya, keindahannya, warna - warna alam yang merona, dan tak ketinggalan para petani yang sedari pagi telah beraktivitas di tengah sawah. Angin sepoi- sepoi serasa membelai wajah, membawa saya pada suasana damai dalam jiwa, terlebih lagi hamparan menghijau kini menghiasi tiap petak sawah, lengkap dengan bulir- bulir padi yang menggantung pada tangkainya. Kawanan bangau juga tak lupa untuk sekedar mampir, mencari makanan favoritnya seperti katak kecil dan beberapa jenis serangga lainnya. Di kejauhan berjejer menjulang pohon- pohon cengkeh serta kelapa menghiasi indahnya anugerah sang penciptaMenoleh kembali apa yang ada di hadapan mata, rasa syukur dalam hati begitu luar biasa, kala menyaksikan padi telah berproses seiring waktu dan menanti untuk segera di pun juga demikian, berharap hasil terbaik panen kali ini memberikan penopang hidup guna memutar roda perekonomian. Setidaknya petani pun akan merasakan dampaknya ketika panen melimpah dengan harga gabah yang stabil sebagai bentuk penghargaan jerih kekhawatiran juga tak kunjung sirna di pelupuk mata, kala beberapa lahan persawahan telah beralih fungsi guna mengikuti tuntutan jaman. Ruko di bangun pada lahan produktif, begitu juga blok perumahan berjejer menggantikan peran sawah yang dulu memberikan keseimbangan dan kini terhimpit seolah alam pun tak mampu bicara. Sungguh saat ini saya sangat bersyukur yang teramat dalam, karena masih diberikan kesempatan menikmati suasana alam pedesaan lengkap dengan pematang sawah ber petak lengkap dengan gemercik air dan sapi yang digembalakan oleh para sahabat di hari sabtu dan minggu, saya gunakan sebagai waktu berharga untuk mengajak keluarga mengunjungi sawah, melihat pemandangan bukit yang menghijau, di kejauhan terlihat pula pesona laut yang membentang, karena letak sawah yang strategis mencakup itu anak bermain lumpur, memberi makan sapi, menyaksikan capung terbang, burung- burung yang hinggap pada tangkai padi, kiranya itu memang sebagai hama tapi sejuk jika dipandang mata. 1 2 Lihat Nature Selengkapnya